Minggu, 04 Agustus 2013

Contoh Pidato


Yang saya hormati Ibu L. Malau selaku pengajar,
Dan teman-teman yang saya sayangi,
Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita.

                Pertama-tama kita patut mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatNya kita dapat berkumpul di tempatini dalam keadaan dehat walafiat.
Terima kasih kepada Ibu L. Malau dan teman-teman yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyampaikan suatu pidato yang bertema “kasih anak kepada orang tua”.
               
                Kita tahui bahwa orang tua sangat berarti bagi kita. Mereka merawat kita dari kecil, memberikan yang terbaik untuk kita. Bahkan ibu telah melahirkan kita dengan nyawa sebagai taruhannya. Tanpa adanya orang tua, tentu kita juga tidak akan ada di tempat ini. Saat kita sakit, orang tua yang merawat kita. Saat kita beranjak dewasa, orang tua lah yang mati-matian menyekolahkan kita. Orang tua yang membelikan kita pakaikan, orang tualah yang memenuhi kebutuhan kita. Namun, apakah kita sudah membalas semua itu? Apakah kita sudah membahagiakan orang tua kita? Belum. Malah sebaliknya, kita sering membuat orang tua kita stress.       Kita melawan mereka, bahkan membunuh mereka secara perlahan dengan sikap-sikap kita.
                Teman-teman, zaman sekarang ini banyak stasiun TV yang memberitakan kedurhakaan anak kepada orang tua. Tidak jarang kita lihat seorang anak memenjarakan orang tuany sendiri, bahkan tega membunuh mereka dengan tangannya sendiri. Sungguh bukan perilaku manusia. Suatu stasiun televisi memberitakan seorang anak yang menggugat ibu kandungnya yng telah berusia 90 tahun hanya karena sebidang tanah. Kita tidak terlahir dari batu. Di daerah lain, seorang gadis SMA memenjarakan ayahnya hanya karena sang ayah memukul kakinydengan gagang sapu. Kita lihat sekilasa sang ayah memang salah. Namun hal itu dilakukannya dengan suatu alasan yang masuk akal. Jika kita melawan dan berperilaku tidak sopan di depan orang tua kita tentu mereka akan marah.
                Teman sekalian, hendaknya kita tidak meniru perbuatan-perbuatan tidak terpuji yang mungkin dilakukan anak lain terhadap orang tua nya. Ingatlah, orang tua adalah Allah yang  terlihat. menuruti nasihat orang tua sama dengan menuruti Tuhan. jangan sampai orang tua kita mengucapkan kutukan kepada kita, karena setiap perkataan orang tua meskipun dalam hati adalah doa yang akan terwujud. Ingatlah perjuangan mereka. Ingatlah ketulusan mereka. Hendaklah kita pupuk hubungan kita dengan orang tua sehingga berkembang menjadi karangan bunga yang indah.
                Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian. Dan semoga apa yang saya sampaikan dapat berguna bagi kita semua. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih, dan selamat siang.

Jumat, 12 Juli 2013

Tidak Berujung Sia-Sia

Cerpen kali ini ditulis berdasarkan perjalanan hidup my lovely mommy.. :* ini aku tulis untuk mewujudkan keinginan mommy membuat satu novel(walau ini bukan novel.hehe) yang mengangkat kisah hidup mommy yang penuh liku.walau begitu sederhana dan banyak kekurangan, here's for you, Mom :*. selamat membaca, reader! ^_^

 ***
2 April 1961 Tuhan mengutus aku untuk menikmati dunia. Dilahirkan dari orang tua yang luar biasa. Bukan hanya memperjuangkan kami anak-anaknya, tapi juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Aku Lima. Sesuai dengan namaku, aku anak ke lima dari tujuh bersaudara. Bukan jumlah yang besar di zamanku dulu. Tentu saja, tidak ada istilah KB. Kami tidak tinggal di istana atau rumah besar dengan pekarangan luas. Kami tinggal di gubuk tua di sebuah desa bernama Lobunahot dengan hamparan hutan mengelilinginya. Tidak ada transportasi, tidak ada handphone, tidak ada internet, tidak ada kendaraan bermotor.
Ketika aku menginjak kelas 1 SD, aku harus berjalan kaki sejauh 5 km untuk memetik ilmu di sekolahku. Menembus hutan yang bernyanyi, menapaki jalan yang dipenuhi dengan rumput menari. Sekolah darurat. Begitu namanya. Hanya beratapkan nipa dan beralaskan tanah liat. Buku yang kami gunakan terbuat dari batu. Alat tulisnya pun dibuat dari batu yang dibentuk seperti pensil. Hanya ada 1 batu untuk setiap anak. Tiap 1 pelajaran usai, kami harus membersihkan buku batu itu, menulisinya lagi, dan menghapusnya. Tidak ada yang ingin dibaca di rumah. Pernah suatu waktu aku dihukum di sekolah karena bermain saat pelajaran. 1 cambukan di punggung pun kuterima. Tidak ada istilah mengadu pada orang tua kecuali ingin mendapat tambahan hukuman.
Waktu terus berlalu. Aku menyelesaikan masa SD ku dengan baik. Tiba saatnya aku menerima gelar junior di SMP. Tapi tidak! Dengan alasan ekonomi, orang tua ku tidak bisa menyekolahkan aku lagi. Aku justru harus pergi ke ladang setiap harinya. Pernah suatu hari aku tidak bisa pulang ke rumah dan membuatku  menginap di pondok ladang. Di tengah hutan. Dengan kegelapan yang mencekam dan penerangan seadanya. Rasa takut menghampiriku. Bukan takut akan mahluk-mahluk tembus pandang atau sejenisnya. Yang kutakutkan hanyalah hewan buas yang bisa datang kapan saja.
Setahun lamanya aku menganggur. Aku pergi ke ladang dengan patuh. Bukan karena aku menyukainya,dan bukan  tanpa sebab. Aklu rela menyusuri hutan dengan harapan orang tuaku akan kembali menyekolahkanku. Namun harapan itu tidak bisa terkabul dengan hanya sekali bernafas. Tahun ajaran baru pun tiba. Aku meminta orang tuaku mengantarkanku sekolah. Tentu saja jawaban yang kuterima adalah tidak! Hal ini membuatku hancur. Aku tidak mau lagi pergi ke ladang. Aku bahkan bersembunyi di bawah tempat tidur. Hingga seminggu setelah sekolah dimulai, aku kembali meminta kepada orang tuaku. Mereka luluh. Aku sekolah di luar daerah. Terima kasih Tuhan.
Hari pertama belajar di sekolah. Tanganku kaku, karena memang sudah setahun aku tidak pernah menulis. Dan kengerian menghampiriku. Guru aljabar menagih PR padaku. Di hari pertama aku masuk sekolah! Dia bahkan tidak peduli akan gelar ‘murid baru’ ku. Aku menerimanya dengan baik.
Dua  bulan. Waktu yang kuperlukan untuk mengejar ketinggalanku. Aku tidak jauh ketinggalan dari teman-temanku yang lainnya. Bukan tanpa usaha. Tentu saja.
Karena adanya pertukaran tahun ajaran, aku mengecap pendidikan SMP selama tiga setengah tahun. Aku menjalaninya dengan baik. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Keinginanku untuk melanjut ke SMA tidak kalah besar dari sebelumnya. Nyaris saja aku tidak melanjut. Orang tuaku kembali menyayangkan keadaan ekonomi kami. Namun ketika kakak ketiga ku kembali dari perantauan, dia mengusulkan aku masuk ke Sekolah Pendidikan Guru di Balige. Daerah yang cukup jauh dari daerah kami. Dengan bantuan kakakku, ayahku pun setuju aku melanjutkan sekolah dengan syarat aku harus bisa membagi uang sepuluh ribu rupiah untuk satu bulan. Bukan syarat yang mudah memang, tapi aku tidak mau membuang kesempatan itu. Aku pun pergi ke Balige untuk mendaftarkan diri. Tidak ada sistem online saat it. Ternyata tidak selancar yang kubayangkan. Berkas-berkasku tidak lengkap. Aku kebingungan. Namun Tuhan masih berpihak padaku. Panitia memberiku waktu untuk melengkapi berkasku sebelum hari ujian tiba.

Kami kembali ke kampung. 2 minggu kemudian, aku kembali ke Balige dengan berkas yang sudah kulengkapi. Tidak mudah mencari tempat tinggal di daerah yang  sama sekali tidak kita kenal. Untungnya semesta mendukung. Aku mencari teman yang ku kenal, dan dapat! Aku tinggal bersamanya hingga waktu ujian tiba.

Waktu yang ditentukan pun tiba. Dengan kemampuan yang kumiliki, aku menjawab soal-soal yang ditumpahkan pada kami. Bukan berarti aku mengerjakannya dengan tenang. Aku takut. Takut kalau usahaku akan sia-sia. Takut karena temanku, teman baruku bertanya siapa orang yang akan membantuku dan berapa uang yang aku keluarkan agar aku bisa lulus. Aku takut. Aku tidak mengenal siapapun di kota ini. Aku hanya menjawab dia seadanya. “Yang membantuku nanti hanyalah Tuhan”. Yah, menskipun aku berkata demikian, tapi hatiku masih saja gusar.

Usai ujian aku kembali ke daerah asalku. Hasil akhir ujian pertama akan diumumkan 2 minggu kemudian. Selagi menunggu waktu berjalan, sakit menghampiriku. Aku selalu gusar. Kembali tearingat akan perkataan teman seperjuanganku ---walau berbeda cara--- akan uang yang mereka berikan pada panitia. Aku tidak yakin kalau aku akan lulus. Namun Tuhan berkata lain. Hari pengumuman pun tiba. Dan namaku terpampang jelas di daftar peserta yang lolos.

Hari ujian tahap kedua
Aku mengikuti ujian dengan keadaan kurang baik. Tentu saja. Aku terus memikirkan ‘bantuan’ yang didapat teman-temanku. Hari pertama aku masih melakukannya dengan baik, namun tidak dengan hari kedua. Tubuhku semakin lemah. Aku terpaksa meninggalkan kelas. Setengah jam sebelum ujian berakhir barulah aku kembali ke kelas. Aku melanjutkan ujian dengan sisa tenaga yang kupunya. Tepat ketika waktu habis, aku menyelesaikan soal-soal itu.
Ujian selesai. Tinggal menikmati penantian selama dua minggu ke depan. Lagi-lagi aku sakit. Bahkan lebih parah. Jika aku tidak lulus pada tahap kali ini, aku haru sekolah dimana? Aku tidak ingin tinggal dan terkurung di pedalaman ini selamanya.
Dua minggu berlalu, waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Namun, tubuhku yang lemah tidak mengizinkanku pergi sekedar melihat pengumuman. Akhirnya kakakku, kakak yang membantuku, pergi jauh-jauh ke Balige hanya untuk melihat apakah aku, adiknya, termasuk dalam kelompok orang yang beruntung. Dan, ya! Aku orang yang beruntung. Kakakku pulang dengan membawa berita yang membuat penyakitku lari ketakutan. Terima kasih Tuhan, Engkau tidak pernah meninggalkanku.
Aku menempuh pendidikanku di Sekolah Pendidikan Guru Balige. Membagi uang sepuluh ribu rupiah per bulan, menguasai diri agar tidak terlena dengan gaya teman-temanku yang memiliki banyak materi, menempuh jalan gelap sejauh 3 km agar uang yang kupunya tidak kandas ditelan bumi. Perjuangan yang menyenangkan. Namun perjuangan itu bukan tidak menghasilkan apa pun. Aku menyelesaikan sekolahku sampai akhir. Aku mendapatkan Suratr Kerja yang akan membawaku kepada kehidupan yang lebih baik. Awalnya aku mengajar dengan sukarela di desa kelahiranku. Mengabdikan ilmuku untuk sekolah yang membuatku berhasil. Hingga akhirnya aku membuat lamaran kerja. Aku diterima menjadi seorang guru yang sesungguhnya.
Namun perjuanganku tidak berhenti sampai di situ. Awal bekerja aku ditempatkan di sebuah sekolah di tengah hutan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dengan gaji yang terbilang sedikit. Jalan yang kutempuh pun  bukan jalan yang menyenangkan. Aku harus berjalan sehari penuh. Menyusuri sepinya hutan sendirian. Coba bayangkan. Seorang gadis berjalan sendirian di tengah hutan, yang mungkin saja bisa menelanku hidup-hidup. Mungkin sedikit berlebihan, namun begitulah keadaannya.
Meski begitu, aku tetap menyukai pekerjaanku. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku hidup. Aku bersyukur Tuhan mengizinkanku mendapat pendidikan dan pekerjaan.
Cukup lama aku bekerja di sekolah di tengah hutan itu. Hingga aku menikah dengan seorang pemuda tampan dan memiliki 3 orang anak. Aku dipindahkan ke SD Tampahan, yang berada di Balige. Aku bersyukur. Belasan tahun aku mengabdi di sana. Dan kini, setelah setengah perjalananku yang berliku, aku sudah mendapat gelar PNS, mengajar di sekolah yang dekat dengan rumahku. Aku bersyukur. Perjuanganku, sakitku, lelahku, tangisku, tidak berujung sia-sia. Terima kasih, Tuhan.

Senin, 24 Juni 2013

Sekolah Dambaan


http://youth-esn.16mb.com/wp-content/uploads/2013/05/poster-SD-blog-comp-new1.png

                Setiap pelajar memiliki kriteria sekolah yang diidamkan. Ada yang menyukai sekolah yang memiliki peraturan ketat, dan ada pula yang menginginkan sekolah yang ‘bebas’. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Tulisan ini saya curahkan berdasarkan sudut pandang saya. Selamat membaca :)

                Guru yang baik adalah guru yang mampu bukan hanya sebagai pengajar saja, namun juga menjadi figur orangn tua dan sahabat. Setiap siswa menginginkan hal tersebut. Dengan demikian, para siswa akan mau dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan guru. Peserta didik membutuhkan guru yang mampu mengenal anak didiknya luar dalam.

                Tidak hanya menjadi sosok sahabat bagi murid, hubungan guru dengan orang tua juga perlu dipupuk. Apabila ada hubungan yang harmonis, maka akan terjalin kerja sama yang baik. Apabila ada kerja sama yang  baik, maka proses pembangunan sekolah yang bermutu dan murid yang berbakat akan berlangsung baik pula. Jika orang tua dan guru dekat, maka bisa saling memberi masukan dalam mendidik siswa.
                Keadaan sekolah juga tentu sangat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Lingkungan sekolah yang asri diperlukan bukan hanya sebagai keindahan semata. Jika lingkungan hijau, sejuk, maka otak pun bisa bekerja dengan baik. Tanaman hijau sebagai penyegar pikiran, mata, dan suasana hati.

                Kemudian fasilitas yang lengkap. Dengan lengkapnya fasilitas pendidikan di sekolah, tentu akan mempermudah kegiatan belajar mengajar, dan menjadi suatu pemicu untuk mengembangkan bakat.salah satunya adalah perpustakaan. Merupakan hal yang sangat baik jika sekolah memiliki perpustakaan yang nyaman, dan memiliki jenis buku yang banyak.  Dengan banyaknya jenis buku yang menarik, maka akan menumbuhkan niat baca siswa.

                Fasilitas lainnya yang tidak kalah penting adalah meja dan kursi, dan tentu saja ruang kelas yang layak. Bagaimana mungkin kita bisa belajar dengan tenang jika langit-langit ruang kelas kita terus menerordengan cara bergelantungan di atas kepala kita? Atau air yang menetes membasahi buku kita ketika hujan turun? Bahkan langit pun mengejek ruang kelas yang ‘sangat layak’ itu.

                Sebagai suatu keluarga besar, tentu dibutuhkan kasih sayang, saling menghargai dan menghormati. Hal ini juga haruslah diterapkan di sekolah. Bayangkan jika murid-murid di sekolah saling cuek. Di sekolah hendaknya diterapkan peraturan ‘menyapa kakak kelas dengan hormat’. namun dengan catatan, juga diterapkan peraturan ‘tidak ada istilah senior maupun junior’. Dengan begitu, ‘senior’ tidak boleh bersikap sesuka hati kepada adik kelasnya.

                Mungkin sulit untuk didefenisikan secara spesifik. Sekolah perlu mengajak murid-muridnya untuk selalu menjaga kekompakan. Sekolah perlu meninjau, apakah kekompakan antar siswa sudah terjalin, atau sebaliknya, yang dipupuk adalah diskriminasi?

                Di samping semua itu, pemberian tugas yang kreatif merupakan hal yang sangat penting. Jika tugas yang diberikan kreatif, maka peserta didik pun akan berfikir kreatif dan inovatif. Kita ambil salah satu contoh pemberian tugas kreatif yang diberikan guru kimia di sekolah saya. Beliau memberikan tugas dalam bentuk kliping, dan juga dalam bentuk power point. Dengan begitu, kita sudah mempelajari 2 pelajaran. Kimia dan TIK. Contoh lain, misalnya akan dilaksanakan ujian praktek kesenian di akhir semester. Hasil-hasil karya yang kita buat bisa dipamerkan di sekolah dalam acara pentas seni, dan saat itu lah dilakukan penilaian. Jadi karya yang kita buat bukan hanya untuk mencari nilai, tetapi juga untuk ditampilkan di depan masyarakat umum. Tentu perasaan bangga dalam diri kita akan berkali-kali lipat, dan membuat kita ingin menciptakan karya lain.

Ada api kecil yang sedang mempersiapkan dirinya untuk berkobar. Api itu berharap tempat ia mempersiapkan dirinya ditata dengan baik dan penuh perhatian. Api itu berharap ‘sarana’ itu tidak dibeda-bedakan. Api itu berharap api-api lain yang lebih kecil darinya bisa mengecap ‘sarana’ itu. Api itu berharap sarana itu tidak dijadikan sarang politik. Sarana itu adalah pendidikan.

Kami ini seperti api. Jangan padamkan kami. Rawatlah kami, agar kami mampu memberi kehangatan bagi dunia. Namun, ketika kami tidak dirawat dengan baik, dunia bisa musnah ditelan api.

Jumat, 07 Juni 2013

Matahari, Langit, Hati, semua mendukung

17.40
'sore'
satu kata yg mampu membuat seorang wanita bahagia.
itu pula yang kurasakan.
tapi hanya sesaat.
kau tau, aku menunggu satu pesan darimu. satu pesan singkat sekedar menanyakan keadaanku.
tapi ternyata aku masih sama seperti dulu. bodoh.
harusnya aku sadar, kau tidak akan mengirimiku pesan kecuali ada yang perlu.
harusnya aku sadar, kau mengirimiku pesan hanya untuk meminta nasihat tentang 'dia'
KSR. begitu aku memanggilnya.
hei, tapi bukankah aku harusnya bersyukur? harusnya aku bersyukur kau masih mau meinta nasihat dariku. harusnya aku bersyukur kau masih mengingatku.
haha
aku senang aku bahagia.
tapi kau tau, aku mulai lelah menahan sakit hati yang begitu berat. sepertinya tidak ada orang lain yang mau membantuku.
aku lelah mendengar ceritamu. tapi aku juga tidak bosan.
paling tidak, kau masih mengingatku di masa-masa galaumu. haha

18.18
disini, aku terdiam. memandangi pesanmu.
matahari tenggelam, kegelapan muncul, angin menusuk tulang, titik-titik air mulai berjatuhan ke bumi.
sesuai dengan apa yang kurasakan. dan...hei, kau tau tidak? aku merindukanmu.. kau tidak tau kan?? tentu. aku tdak memberitahumu. haha


terima kasih sudah mengingatku, heii kau mistertiii yg bodoh... :)


#curcol

Minggu, 02 Juni 2013

Malaikat Kecil di Bawah Payung

           Baju gadis kecil itu sudah basah kuyup ketiba sampai di haklte. beberapa orang anak sekolah dan ibu-ibu segera menyerbu gaduis kecil itu. Tapi, ketika gadis itu melihat ke arahku, dia cepat menghampiriku, sepertinya dia sudah mengenalku sebelumnya.

 Dia hanya menawarkan payungnya untukku. awalnya ku menolak, karena banyak orang yang membutuhkan jasanya selain aku. tapi apa daya, ia selalu mengarahkan payung tersenut ke arah kedua tanganku. hingga ku tak mampu tuk menolak lagi, ku raih benda tersebut dari kedua tangannya.

 Dia tersenyum. Senyum yang hanya dimiliki gadis lugu seperti dia. Segera saja aku menyeberangi jalan yang selalu diramaikan kijang berlalu-lalang. Gadis kecil itu berjalan di sampingku. Kaki kecilnya yang telanjang melangkah pasti seirama dengan suara hujan, lagu alam yang indah. Dia tidak mempedulikan pakaiannya yang sangat basah. Aku menariknya agar terlindung dari tetesan air hujan yang kian menjadi. Dia tersenyum. Tangan kecilnya menggenggam tanganku dengan erat. Genggamannya itu membuat aku merasa hanagat di antara dingiinya malam yang menusuk tulang.

Dia mengantarku sampai ke depan rumah.
            “Terima kasih, adik kecil,” ucapku sembari menyodorkan uang lima ribuan padanya. Hening sejenak.
            “Terima kasih, kakak.” Lagi-lagi dia tersenyum, lalu berlari menerobos hujan.
            Aku terkejut. Bukan karena dia pergi tanpa menerima uang dariku, tapi karena suaranya yang begitu lembut dan nyaris tak terdengar hingga membuat tubuh kecilnya terlihat begitu rapuh. Aku hendak memanggilnya ketika dia menghilang di kegelapan malam.

            Aku kembali mengingat wajahnya. Senyuman dan tatapan matnya yang mengatakan dia merindukan sesuatu. Sesutau yang mungkin telah hilang dari hidupnya. Di telingaku kembali terngiang suaranya yang lembut, bersih, dan menyimpan sesuatu yang tak dapat diungkapkan. Aku bertanya kepada langit-langit kamar dan berharap dia akan menjawabku. Apakah aku mengenalnya? Apa dia mengenalku? Mengapa aku  merasa begitu dekat dengan sosok itu? Siapa gadis kecil itu? Aku berusaha menemukan jawaban, namun kelelahan menerpaku dan aku tenggelam di pulau kapukku yang hangat.

            Hari terus berlalu, bumi tetap berputar, waktu terus berjalan, tak ingin beristirahat walau hanya sedetik. Aku tidak pernah melihat gadis kecil itu lagi. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya di halte dekat rumahku. Apa dia baik-baik saja?
“Cari siapa, Nind?” Tanya mas Dodi melihatku celingak-celinguk di suatu pagi yang cukup mendung.
            “Hah? Ah, bukan siapa-siapa kok, Mas. Yuk, kita berangkat. Ntar aku telat.”

* * *

            Sepertinya langit tak ingin beradamai hari ini. Sejak pagi tadi hujan tak kunjung berhenti. Jam bulat yang bertengger di dinding sekolah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Pikiranku masih tertuju pada gadis kecil itu. Entah apa tyang membuatku selalu mengingatnya.
            “Oii, loe ikut gak niih?” Hani membuyarkan lamunanku.
            “Kemana?”
            “Astaga, Nind.. Kamu sehat? Udah pikun? Kesambet? Belum minum obat?” Omel Zahra tanpa memberiku jawaban. Yaah, temanku yang satu itu memang orang yang cerewet.
            “Errr..” hani menepuk dahinya. “Nindy Arisetami. Hari ini kita ada jadwal perjalanan ke Orchid Garden alias Taman Anggrek alias MTA, dunianya ibu-ibu arisan yang suka shopping. Loe kenapa sih? Aneh banget hari ini.” Celetuknya panjang lebar.
            “Oh, iya iya. Ya udah. Cuss kalo gitu. Yuk!”

            Kami melangkahkan kaki kami ke lapangan parker sekolah, tempat mobil Hani berdiam bersama supir kebanggaannya. Kami menembus hujan. Menyusuri jalan yang mulai tergenang. Kuamati setiap anak yang menawarkan payung kepada pengguna jalan di halte, emperan toko, bahkan di lampu merah. Namun tak kutemukan gadis kecil itu di sana.

            Taman Anggrek. Memang tempat yang menyenangkan untuk belanja ria dan menikmati arena ice skating. Tapi aku tidak bersemangat. Hanya sebentar aku menemani Hani dan Zahra shopping.

            “Eh, aku pulang duluan ya? Lagi gak enak badan nih.”
            “Loh, kok? Bareng aja. Gue anter deh” Hani terlihat khawatir.
            “Oh, gak usah, Han. Gapapa kok. Kalian shopping aja dulu.”
            “Bener nih? Ya udah deh. Kamu hati-hati ya.” Ucap Zahra.

            Aku berlalu. Jantungku nyaris melompat ketika aku melewati pintu keluar. Gadis kecil yang kucari-cari sedang duduk merenung di tangga pertama mal itu. Tubuhnya terlihat lemah. Bibirnya putih. Aku mendekatinya.
            “Dek..”
            Dia menoleh padaku. Matanya sembab. Sepertinya dia baru menangis.
            “kakak.. payungnya rusak.” Dia mengadu. Aku terdiam.
            “Aku lapar..” Aku mengelus kepalanya. Dia menggigil. Badannya hangat.
            “Yuk, kita makan..” Ajakku.
            “Beneran?” Tanyanya polos. Dadaku sesak. Mataku mulai panas.
            “Iya, adik kecil.” Aku berusaha tersenyum.

            Mata bulatnya berbinar. Bibir pucatnya mengembang. Aku menggenggam sebelah tangannya. Kubawa di ke Mc Donals. Dia makan dengan lahap. Tak pernah kulihat anak kecil makan sebanyak itu. Kukira hanya mas Dodi yang mampu menghabiskan dua piring nasi.

            “Puji Tuhan, udah kenyang.” Ucapnya bersyukur. Aku terhentak. Meski dia hidup kekurangan, dia masih bias bersyukur.
            “Nama kamu siapa, Dik?” Tanyaku.
            Dia memandangku binung. Matanya menyelidik.
            “Iiiihh.. Kakak aneh. Aku Angel kak.”

            Aneh? Mengapa dia menyebut aku aneh? Tiba-tiba kepalaku pusing. Pandanganku gelap. Dunia seakan-akan berbalik. Dalam memori otakku berputar tanyangan-tayangan yang sebelumnya kulupakan. Tayangan yang hilang dari ingatanku setelah aku mengalami kecelakaan tiga minggu lalu dan mengakibatkan aku terkena retrograde amnesia, amnesia ringan yang membuatku lupa kejadian yang kualami 2 bulan sebelum kecelakaan.

            Sekarang aku ingat. Aku ingat siapa gadis itu. Aku ingat mengapa aku merasa begitu dekat dengannya. Dia Angel kecil yang dulu tinggal di sebelah rumahku. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sana. Dan yang kutahu, ibunya dipecat karena memecahkan guci kesayangan majikannya. Aku ingat dulu sering memberinya makanan kalau bertemu. Dia sering berdiri di depan pintu gerbang rumahku sambil mendekap boneka beruangnya yang lusuh.
           
            Aku berfikir sejenak. Kuperhatikan wajah putihnya yang berlapis debu. Kuperhatikan bola matanya yang penuh harapan. Kuperhatikan bibirnya yang masih putih. Kuperhatikan tubuhnya yang kecil. Dimana ibunya? Mengapa anak sekecil ini dibiarkan bekerja sendirian? Mengapa dia terlihat tidak terurus? Beribu pertanyaan bermunculan di benakku.

            “Angel, mama di mana?”
            Dia menatapku. Kemudian memandang meja di depannya.
            “Mama di surga.”
            Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat. Aku ingin mengatakan sesuatu, namun bibirku tak mau terbuka.
            “Angel sekarang sendirian. Kadang Angel tidur bareng temen-temen di depan toko. Angel juga suka nginap di rumahnya Sasha. Tapi rumah Sasha dibuatnya dari kardus. Sempit, dingin.” Hening sejenak. “Angel kangen sama mama. Angel kangen dipeluk mama.” Kulihat matanya berlinang, bagaikan kolam yang hendak meluap.

            Aku mendekapnya. Dia menangis. Aku berusaha tidak terlihat begitu sedih. Tapi aku gagal. Hatiku perih seperti tersayat-sayat. Dunia ini tidak adil. Mengapa gadis kecil seperti dia harus mengalami hal buruk seperti ini?

            Aku teringat pada orang tuaku. Meskipun aku terlahir dari orang tua yang tidak begitu akur, aku jauh lebih beruntung dari Angel. Orang tuaku sibuk dengan urusan masing-masing dan lebih mementingkan materi. Namun aku masih mempunyai mas Dodi yang menyayangiku. Aku masih bisa sekolah. Aku masih bisa mengisi perutku tanpa harus bekerja keras seperti Angel. Namun jika dibandingkan dengan ketegaran Angel kecil, aku bukan apa-apa. Bahkan aku sering lupa bersyukur dengan apa yang kumiliki.

            * * *
           
            Pukul 21.00. Aku membawa Angel ke rumahku. Seperti biasa, orang tuaku belum berada di rumah. Alasannya sama. Sibuk cari duit. Berbeda dengan Mas Dodi yang mungkin sudah menyiapkan KBBI agar mempunyai cukup kosakata untuk mengomeliku karena pulang terlambat. Aku lupa meneleponnya. Apalagi setelah Hani dan Zahra memberitahunya bahwa aku sudah pulang duluan.

            Kulihat air muka Mas Dodi berubah ketika aku memasuki rumah. Mungkin tadinya dia ingin memarahiku. Namun melihat aku membawa gadis kecil yang seperti dikenalnya, dia diam seribu bahasa. Aku menjelaskan apa yang terjadi. Dari awal pertemuanku dengan Angel, hingga tentang kematian ibunya, dan rencanaku untuk mengajaknya tinggal di rumah kami.

            “Astaga.. Kasihan banget dia.” Ucap Mas Dodi.
            “He em.. Jadi, bisa kan, Mas, Angel tinggal bareng kita?”
            “Mas sih mau aja. Tapi Mama sama Papa?
            “Ah. Mereka mana peduli ada siapa aja di rumah ini.” Ucapku sinis. “Lagian kan, kita punya cukup makanan buat berlima. Angel bisa tidur bareng Nindy.” Tambahku.
            “Hushh, ga boleh gitu. Ya udah deh, terserah kamu aja. Kasihan juga Angel.”
            Aku tersenyum puas. Kubawa Angel ke kamarku. Aku memakaikannya baju masa kecilku yang membuat dia agak tenggelam di dalamnya. Hatiku berbunga-bunga bisa membawanya ke rumahku.

* * *

            Pagi yang cerah. Namun tubuhku belum mau beranjak dari tidurku yang indah. Tempat tidurku tidak mengizinkanku pergi, hingga suara lembut sperti malaikat berbisik di telingaku. Tangan kecilnya mengguncang tubuhku.
            “Kak, bangun kak..”
            “Hhmmm” jawabku malas.
            “Kak, bangun.. udah pagi.”
            “Bentar lagi dek, ini kan hari Minggu.”
            “Iyaa, ini hari Minggu.. Kita ke gereja yuk?”
            Aku terbangun. Nyaris melompat. Sebelumnya tidak ada orang yang mengingatkan, bahkan mengajakku ke gereja. Sudah lama aku ingin beribadah bersama keluargaku. Entah apa yang membuatku mengikuti ajakan Angel.
            Kami turun ke dapur. Papa, Mama, dan Mas Dodi sudah ada di sana. Mereka terlihat bingung melihatku bangun pagi. Biasanya, aku orang paling malas bangun jika hari Minggu tiba. Papa dan Mama memandangi Angel. Rupanya Mas Dodi sudah bercerita pada mereka dan mereka setuju Angel tinggal bersama kami. Ya, walaupun kami tidak begitu akrab, tapi kami masih mempunyai rasa belas kasihan.
            Mereka kembali menatapku.
            “Mau gereja.” Kataku menjawab pertanyaan yang tak mereka ucapkan.
            Mereka berpandangan.
            “Selamat pagi, Om, Tante, Mas Odi.” Sapa Angel riang. “Ke gereja yuk?”
            Papa, Mama, dan Mas Dodi terdiam. Ekspresi mereka berubah. Ssepertinya ada sesuatu yang membuat mereka merenung. Hening. Aku mengajak Angel sarapan. Sarapan yang dibumbui dengan keheningan.
            “Kita ke gereja, yuk?” Papa memecah keheningan.
            Aku dan Mas Dodi terbelalak.
            “Iya. Yuk, kita ke gereja?” sambung Mama.
            Tanpa sadar, aku tersenyum lebar dan meneteskan air mata. Bahagia rasanya mendengar Papa dan Mama mengajak kami beribadah ke gereja.
            “Masa’ anak kecil ke gereja, kita nggak?” kata Papa kemudian.

            Angel membawa perubahan kecil bagi kami. Entah itu apa, namun Angel memiliki sesuatu dalam dirinya yang membuat orang lain ingin mengikuti perkataannya.

            Sudah tiga minggu Angel menjadi bagian dari keluarga kami. Kehadirannya membawa kebahagiaan bagi kami. Papa dan Mama sepertinya sangat menyayangi Angel. Mereka sudah dangat jarang bertengkar. Bahkan mereka selalu meluangkan waktu akhir pecan mereka untuk kami. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

            Namun, semua itu terasa seperti balon yang ditiup tanpa henti. Semakin besar, semakin besar, hingga akhirnya mencapai puncak keelastisannya dan pecah. Kebahagiaan kami sirna ketika suatu malam Angel terserang demam tinggi. Nafsu makannya berkurang  Badannya menggigil. Bibirnya sepucat kertas. Kami melarikannya ke rumah sakit. Lagi-lagi hujan. Membuat perjalanan kami terhalang. Untungnya Papa cukup handal mengemudikan mobil.

            “Anak ibu mengidap penyakit Thalasemia.” Kata dokter menyebut nama penyakit yang terdengar asing bagiku.
            “Thalasemia?” Tanya Mama mempertegas.
            “Iya, Bu. Maaf, penyakit ini merupakan salah satu penyakit keturunan yang belum dapat disembuhkan.”
            Kami semua terlonjak. Langit seakan-akan runtuh menimbun semua kenangan indah bersama Angel. Rasa sesak yang dulu sering kualami kini menghampiriku kembali.

            “Dokter, tolong selamatkan Angel..” pintaku pada dokter berparas lembut itu.
            “Maaf, Dik. Melihat kondisinya sekarang, sepertinya adik kamu tidak mendapat perawatan serius dari kecil. Biasanya, jika tidak diatasi dari kecil, pengidap penyakit ini hanya mampu bertahan sampai umur delapan tahun.”
            “Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya, Dok?” Tanya Papa penuh harap.
            “Maaf, pak. Thalasemia belum ada obatnya.”
            Putus asa menghampiriku. Mama memelukku. Pertama kalinya sejak dua tahun lalu.

            * * *

            Angel kini menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Ranjang putih menjadi tempatnya berbaring. Selang merah melekat di tangannya. Selang yang menghantarkan darah ke tubuhnya yang lemah. Awalnya dia kuat, ada secercah harapan hidup padanya, namun harapan itu segera terbang meninggalkannya.

            “Kak..” Dia memanggilku dengan suara lembut khasnya yang lemah.
            “Iya sayang?”
            “Meninggal itu apa?” Tanyanya polos.
            Pertanyaan yang membuat dadaku semakin sesak. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
            “Meninggal itu pergi ke surga. Ketemu Tuhan.” Jawab mama sambil menahan telaga bening di matanya agar tidak meluap.
            “Berarti bisa ketemu mama juga? Angel pengen ketemu mama.”
            “Iya sayang.” Mama terisak. Tak mampu lagi menahan butir-butir mutiara di matanya.
            “Kak Nindy, Angel pengen nyanyi.” Ucapnya lagi.
            Dia mulai mengumandangkan lagu yang pernah kuajarkan pdanya dengan suara indahnya. Kami pun ikut membantunya bernyanyi.
            “Dia Tuhan, tak akan pernah memberi penjobaan dan ujian melebihi kekuatan yang kau punya. Hendaklah bersyukur, Dia melakukan semua karma cinta, supaya kau beroleh hikmat dan jadi sempurna sperti Dia.” Suaranya semakin melemah.
            “om, Tante, Mas Odi, Kakak Nindy, Angel sayaaang bangt sama kalian.”
            Dadaku semakin sesak. Kamar putih tempat kami berkumpul kini terasa pengap.
            “Kak Nindy, kue yang Kakak kasih ke Angel enak banget. Makasih ya, Kak.”
            “Aku berusaha tersenyum di balik tangisku. Masa-masa indah bersama Angel kembali berlompatan di kepalaku.
            “Angel capek. Pengen tidur.” Suaranya nyaris tak terdengar.

            Malam itu, Angel kecil menutup matanya dengan damai. Ada sebuah senyum terlukis di wajahnya. Kini dia pergi menemui ayah dan ibunya dan meninggalkan kepenatan dunia yang menyiksa.

            Dia bukan sekedar gadis kecil yang memperjuangkan hidupnya. Dia bukan sekedar gadis kecil yang berjuang melawan penyakit selama tujuh tahun. Dia adalah malaikat kecil yang telah mengubah hidupku. Dia malaikat kecil yang memberiku ketegaran. Dia malaikat kecil yang menyelamatkanku dari belenggu keputusasaan. Dia malaikat kecil di bawah payung yang setia melindungi orang-orang dari dinginnya mutiara-mutiara langit. Terbanglah Angel kecil.

* TAMAT *