Senin, 24 Juni 2013

Sekolah Dambaan


http://youth-esn.16mb.com/wp-content/uploads/2013/05/poster-SD-blog-comp-new1.png

                Setiap pelajar memiliki kriteria sekolah yang diidamkan. Ada yang menyukai sekolah yang memiliki peraturan ketat, dan ada pula yang menginginkan sekolah yang ‘bebas’. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Tulisan ini saya curahkan berdasarkan sudut pandang saya. Selamat membaca :)

                Guru yang baik adalah guru yang mampu bukan hanya sebagai pengajar saja, namun juga menjadi figur orangn tua dan sahabat. Setiap siswa menginginkan hal tersebut. Dengan demikian, para siswa akan mau dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan guru. Peserta didik membutuhkan guru yang mampu mengenal anak didiknya luar dalam.

                Tidak hanya menjadi sosok sahabat bagi murid, hubungan guru dengan orang tua juga perlu dipupuk. Apabila ada hubungan yang harmonis, maka akan terjalin kerja sama yang baik. Apabila ada kerja sama yang  baik, maka proses pembangunan sekolah yang bermutu dan murid yang berbakat akan berlangsung baik pula. Jika orang tua dan guru dekat, maka bisa saling memberi masukan dalam mendidik siswa.
                Keadaan sekolah juga tentu sangat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Lingkungan sekolah yang asri diperlukan bukan hanya sebagai keindahan semata. Jika lingkungan hijau, sejuk, maka otak pun bisa bekerja dengan baik. Tanaman hijau sebagai penyegar pikiran, mata, dan suasana hati.

                Kemudian fasilitas yang lengkap. Dengan lengkapnya fasilitas pendidikan di sekolah, tentu akan mempermudah kegiatan belajar mengajar, dan menjadi suatu pemicu untuk mengembangkan bakat.salah satunya adalah perpustakaan. Merupakan hal yang sangat baik jika sekolah memiliki perpustakaan yang nyaman, dan memiliki jenis buku yang banyak.  Dengan banyaknya jenis buku yang menarik, maka akan menumbuhkan niat baca siswa.

                Fasilitas lainnya yang tidak kalah penting adalah meja dan kursi, dan tentu saja ruang kelas yang layak. Bagaimana mungkin kita bisa belajar dengan tenang jika langit-langit ruang kelas kita terus menerordengan cara bergelantungan di atas kepala kita? Atau air yang menetes membasahi buku kita ketika hujan turun? Bahkan langit pun mengejek ruang kelas yang ‘sangat layak’ itu.

                Sebagai suatu keluarga besar, tentu dibutuhkan kasih sayang, saling menghargai dan menghormati. Hal ini juga haruslah diterapkan di sekolah. Bayangkan jika murid-murid di sekolah saling cuek. Di sekolah hendaknya diterapkan peraturan ‘menyapa kakak kelas dengan hormat’. namun dengan catatan, juga diterapkan peraturan ‘tidak ada istilah senior maupun junior’. Dengan begitu, ‘senior’ tidak boleh bersikap sesuka hati kepada adik kelasnya.

                Mungkin sulit untuk didefenisikan secara spesifik. Sekolah perlu mengajak murid-muridnya untuk selalu menjaga kekompakan. Sekolah perlu meninjau, apakah kekompakan antar siswa sudah terjalin, atau sebaliknya, yang dipupuk adalah diskriminasi?

                Di samping semua itu, pemberian tugas yang kreatif merupakan hal yang sangat penting. Jika tugas yang diberikan kreatif, maka peserta didik pun akan berfikir kreatif dan inovatif. Kita ambil salah satu contoh pemberian tugas kreatif yang diberikan guru kimia di sekolah saya. Beliau memberikan tugas dalam bentuk kliping, dan juga dalam bentuk power point. Dengan begitu, kita sudah mempelajari 2 pelajaran. Kimia dan TIK. Contoh lain, misalnya akan dilaksanakan ujian praktek kesenian di akhir semester. Hasil-hasil karya yang kita buat bisa dipamerkan di sekolah dalam acara pentas seni, dan saat itu lah dilakukan penilaian. Jadi karya yang kita buat bukan hanya untuk mencari nilai, tetapi juga untuk ditampilkan di depan masyarakat umum. Tentu perasaan bangga dalam diri kita akan berkali-kali lipat, dan membuat kita ingin menciptakan karya lain.

Ada api kecil yang sedang mempersiapkan dirinya untuk berkobar. Api itu berharap tempat ia mempersiapkan dirinya ditata dengan baik dan penuh perhatian. Api itu berharap ‘sarana’ itu tidak dibeda-bedakan. Api itu berharap api-api lain yang lebih kecil darinya bisa mengecap ‘sarana’ itu. Api itu berharap sarana itu tidak dijadikan sarang politik. Sarana itu adalah pendidikan.

Kami ini seperti api. Jangan padamkan kami. Rawatlah kami, agar kami mampu memberi kehangatan bagi dunia. Namun, ketika kami tidak dirawat dengan baik, dunia bisa musnah ditelan api.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar