Jumat, 12 Juli 2013

Tidak Berujung Sia-Sia

Cerpen kali ini ditulis berdasarkan perjalanan hidup my lovely mommy.. :* ini aku tulis untuk mewujudkan keinginan mommy membuat satu novel(walau ini bukan novel.hehe) yang mengangkat kisah hidup mommy yang penuh liku.walau begitu sederhana dan banyak kekurangan, here's for you, Mom :*. selamat membaca, reader! ^_^

 ***
2 April 1961 Tuhan mengutus aku untuk menikmati dunia. Dilahirkan dari orang tua yang luar biasa. Bukan hanya memperjuangkan kami anak-anaknya, tapi juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Aku Lima. Sesuai dengan namaku, aku anak ke lima dari tujuh bersaudara. Bukan jumlah yang besar di zamanku dulu. Tentu saja, tidak ada istilah KB. Kami tidak tinggal di istana atau rumah besar dengan pekarangan luas. Kami tinggal di gubuk tua di sebuah desa bernama Lobunahot dengan hamparan hutan mengelilinginya. Tidak ada transportasi, tidak ada handphone, tidak ada internet, tidak ada kendaraan bermotor.
Ketika aku menginjak kelas 1 SD, aku harus berjalan kaki sejauh 5 km untuk memetik ilmu di sekolahku. Menembus hutan yang bernyanyi, menapaki jalan yang dipenuhi dengan rumput menari. Sekolah darurat. Begitu namanya. Hanya beratapkan nipa dan beralaskan tanah liat. Buku yang kami gunakan terbuat dari batu. Alat tulisnya pun dibuat dari batu yang dibentuk seperti pensil. Hanya ada 1 batu untuk setiap anak. Tiap 1 pelajaran usai, kami harus membersihkan buku batu itu, menulisinya lagi, dan menghapusnya. Tidak ada yang ingin dibaca di rumah. Pernah suatu waktu aku dihukum di sekolah karena bermain saat pelajaran. 1 cambukan di punggung pun kuterima. Tidak ada istilah mengadu pada orang tua kecuali ingin mendapat tambahan hukuman.
Waktu terus berlalu. Aku menyelesaikan masa SD ku dengan baik. Tiba saatnya aku menerima gelar junior di SMP. Tapi tidak! Dengan alasan ekonomi, orang tua ku tidak bisa menyekolahkan aku lagi. Aku justru harus pergi ke ladang setiap harinya. Pernah suatu hari aku tidak bisa pulang ke rumah dan membuatku  menginap di pondok ladang. Di tengah hutan. Dengan kegelapan yang mencekam dan penerangan seadanya. Rasa takut menghampiriku. Bukan takut akan mahluk-mahluk tembus pandang atau sejenisnya. Yang kutakutkan hanyalah hewan buas yang bisa datang kapan saja.
Setahun lamanya aku menganggur. Aku pergi ke ladang dengan patuh. Bukan karena aku menyukainya,dan bukan  tanpa sebab. Aklu rela menyusuri hutan dengan harapan orang tuaku akan kembali menyekolahkanku. Namun harapan itu tidak bisa terkabul dengan hanya sekali bernafas. Tahun ajaran baru pun tiba. Aku meminta orang tuaku mengantarkanku sekolah. Tentu saja jawaban yang kuterima adalah tidak! Hal ini membuatku hancur. Aku tidak mau lagi pergi ke ladang. Aku bahkan bersembunyi di bawah tempat tidur. Hingga seminggu setelah sekolah dimulai, aku kembali meminta kepada orang tuaku. Mereka luluh. Aku sekolah di luar daerah. Terima kasih Tuhan.
Hari pertama belajar di sekolah. Tanganku kaku, karena memang sudah setahun aku tidak pernah menulis. Dan kengerian menghampiriku. Guru aljabar menagih PR padaku. Di hari pertama aku masuk sekolah! Dia bahkan tidak peduli akan gelar ‘murid baru’ ku. Aku menerimanya dengan baik.
Dua  bulan. Waktu yang kuperlukan untuk mengejar ketinggalanku. Aku tidak jauh ketinggalan dari teman-temanku yang lainnya. Bukan tanpa usaha. Tentu saja.
Karena adanya pertukaran tahun ajaran, aku mengecap pendidikan SMP selama tiga setengah tahun. Aku menjalaninya dengan baik. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Keinginanku untuk melanjut ke SMA tidak kalah besar dari sebelumnya. Nyaris saja aku tidak melanjut. Orang tuaku kembali menyayangkan keadaan ekonomi kami. Namun ketika kakak ketiga ku kembali dari perantauan, dia mengusulkan aku masuk ke Sekolah Pendidikan Guru di Balige. Daerah yang cukup jauh dari daerah kami. Dengan bantuan kakakku, ayahku pun setuju aku melanjutkan sekolah dengan syarat aku harus bisa membagi uang sepuluh ribu rupiah untuk satu bulan. Bukan syarat yang mudah memang, tapi aku tidak mau membuang kesempatan itu. Aku pun pergi ke Balige untuk mendaftarkan diri. Tidak ada sistem online saat it. Ternyata tidak selancar yang kubayangkan. Berkas-berkasku tidak lengkap. Aku kebingungan. Namun Tuhan masih berpihak padaku. Panitia memberiku waktu untuk melengkapi berkasku sebelum hari ujian tiba.

Kami kembali ke kampung. 2 minggu kemudian, aku kembali ke Balige dengan berkas yang sudah kulengkapi. Tidak mudah mencari tempat tinggal di daerah yang  sama sekali tidak kita kenal. Untungnya semesta mendukung. Aku mencari teman yang ku kenal, dan dapat! Aku tinggal bersamanya hingga waktu ujian tiba.

Waktu yang ditentukan pun tiba. Dengan kemampuan yang kumiliki, aku menjawab soal-soal yang ditumpahkan pada kami. Bukan berarti aku mengerjakannya dengan tenang. Aku takut. Takut kalau usahaku akan sia-sia. Takut karena temanku, teman baruku bertanya siapa orang yang akan membantuku dan berapa uang yang aku keluarkan agar aku bisa lulus. Aku takut. Aku tidak mengenal siapapun di kota ini. Aku hanya menjawab dia seadanya. “Yang membantuku nanti hanyalah Tuhan”. Yah, menskipun aku berkata demikian, tapi hatiku masih saja gusar.

Usai ujian aku kembali ke daerah asalku. Hasil akhir ujian pertama akan diumumkan 2 minggu kemudian. Selagi menunggu waktu berjalan, sakit menghampiriku. Aku selalu gusar. Kembali tearingat akan perkataan teman seperjuanganku ---walau berbeda cara--- akan uang yang mereka berikan pada panitia. Aku tidak yakin kalau aku akan lulus. Namun Tuhan berkata lain. Hari pengumuman pun tiba. Dan namaku terpampang jelas di daftar peserta yang lolos.

Hari ujian tahap kedua
Aku mengikuti ujian dengan keadaan kurang baik. Tentu saja. Aku terus memikirkan ‘bantuan’ yang didapat teman-temanku. Hari pertama aku masih melakukannya dengan baik, namun tidak dengan hari kedua. Tubuhku semakin lemah. Aku terpaksa meninggalkan kelas. Setengah jam sebelum ujian berakhir barulah aku kembali ke kelas. Aku melanjutkan ujian dengan sisa tenaga yang kupunya. Tepat ketika waktu habis, aku menyelesaikan soal-soal itu.
Ujian selesai. Tinggal menikmati penantian selama dua minggu ke depan. Lagi-lagi aku sakit. Bahkan lebih parah. Jika aku tidak lulus pada tahap kali ini, aku haru sekolah dimana? Aku tidak ingin tinggal dan terkurung di pedalaman ini selamanya.
Dua minggu berlalu, waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Namun, tubuhku yang lemah tidak mengizinkanku pergi sekedar melihat pengumuman. Akhirnya kakakku, kakak yang membantuku, pergi jauh-jauh ke Balige hanya untuk melihat apakah aku, adiknya, termasuk dalam kelompok orang yang beruntung. Dan, ya! Aku orang yang beruntung. Kakakku pulang dengan membawa berita yang membuat penyakitku lari ketakutan. Terima kasih Tuhan, Engkau tidak pernah meninggalkanku.
Aku menempuh pendidikanku di Sekolah Pendidikan Guru Balige. Membagi uang sepuluh ribu rupiah per bulan, menguasai diri agar tidak terlena dengan gaya teman-temanku yang memiliki banyak materi, menempuh jalan gelap sejauh 3 km agar uang yang kupunya tidak kandas ditelan bumi. Perjuangan yang menyenangkan. Namun perjuangan itu bukan tidak menghasilkan apa pun. Aku menyelesaikan sekolahku sampai akhir. Aku mendapatkan Suratr Kerja yang akan membawaku kepada kehidupan yang lebih baik. Awalnya aku mengajar dengan sukarela di desa kelahiranku. Mengabdikan ilmuku untuk sekolah yang membuatku berhasil. Hingga akhirnya aku membuat lamaran kerja. Aku diterima menjadi seorang guru yang sesungguhnya.
Namun perjuanganku tidak berhenti sampai di situ. Awal bekerja aku ditempatkan di sebuah sekolah di tengah hutan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dengan gaji yang terbilang sedikit. Jalan yang kutempuh pun  bukan jalan yang menyenangkan. Aku harus berjalan sehari penuh. Menyusuri sepinya hutan sendirian. Coba bayangkan. Seorang gadis berjalan sendirian di tengah hutan, yang mungkin saja bisa menelanku hidup-hidup. Mungkin sedikit berlebihan, namun begitulah keadaannya.
Meski begitu, aku tetap menyukai pekerjaanku. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku hidup. Aku bersyukur Tuhan mengizinkanku mendapat pendidikan dan pekerjaan.
Cukup lama aku bekerja di sekolah di tengah hutan itu. Hingga aku menikah dengan seorang pemuda tampan dan memiliki 3 orang anak. Aku dipindahkan ke SD Tampahan, yang berada di Balige. Aku bersyukur. Belasan tahun aku mengabdi di sana. Dan kini, setelah setengah perjalananku yang berliku, aku sudah mendapat gelar PNS, mengajar di sekolah yang dekat dengan rumahku. Aku bersyukur. Perjuanganku, sakitku, lelahku, tangisku, tidak berujung sia-sia. Terima kasih, Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar