Minggu, 02 Juni 2013

Malaikat Kecil di Bawah Payung

           Baju gadis kecil itu sudah basah kuyup ketiba sampai di haklte. beberapa orang anak sekolah dan ibu-ibu segera menyerbu gaduis kecil itu. Tapi, ketika gadis itu melihat ke arahku, dia cepat menghampiriku, sepertinya dia sudah mengenalku sebelumnya.

 Dia hanya menawarkan payungnya untukku. awalnya ku menolak, karena banyak orang yang membutuhkan jasanya selain aku. tapi apa daya, ia selalu mengarahkan payung tersenut ke arah kedua tanganku. hingga ku tak mampu tuk menolak lagi, ku raih benda tersebut dari kedua tangannya.

 Dia tersenyum. Senyum yang hanya dimiliki gadis lugu seperti dia. Segera saja aku menyeberangi jalan yang selalu diramaikan kijang berlalu-lalang. Gadis kecil itu berjalan di sampingku. Kaki kecilnya yang telanjang melangkah pasti seirama dengan suara hujan, lagu alam yang indah. Dia tidak mempedulikan pakaiannya yang sangat basah. Aku menariknya agar terlindung dari tetesan air hujan yang kian menjadi. Dia tersenyum. Tangan kecilnya menggenggam tanganku dengan erat. Genggamannya itu membuat aku merasa hanagat di antara dingiinya malam yang menusuk tulang.

Dia mengantarku sampai ke depan rumah.
            “Terima kasih, adik kecil,” ucapku sembari menyodorkan uang lima ribuan padanya. Hening sejenak.
            “Terima kasih, kakak.” Lagi-lagi dia tersenyum, lalu berlari menerobos hujan.
            Aku terkejut. Bukan karena dia pergi tanpa menerima uang dariku, tapi karena suaranya yang begitu lembut dan nyaris tak terdengar hingga membuat tubuh kecilnya terlihat begitu rapuh. Aku hendak memanggilnya ketika dia menghilang di kegelapan malam.

            Aku kembali mengingat wajahnya. Senyuman dan tatapan matnya yang mengatakan dia merindukan sesuatu. Sesutau yang mungkin telah hilang dari hidupnya. Di telingaku kembali terngiang suaranya yang lembut, bersih, dan menyimpan sesuatu yang tak dapat diungkapkan. Aku bertanya kepada langit-langit kamar dan berharap dia akan menjawabku. Apakah aku mengenalnya? Apa dia mengenalku? Mengapa aku  merasa begitu dekat dengan sosok itu? Siapa gadis kecil itu? Aku berusaha menemukan jawaban, namun kelelahan menerpaku dan aku tenggelam di pulau kapukku yang hangat.

            Hari terus berlalu, bumi tetap berputar, waktu terus berjalan, tak ingin beristirahat walau hanya sedetik. Aku tidak pernah melihat gadis kecil itu lagi. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya di halte dekat rumahku. Apa dia baik-baik saja?
“Cari siapa, Nind?” Tanya mas Dodi melihatku celingak-celinguk di suatu pagi yang cukup mendung.
            “Hah? Ah, bukan siapa-siapa kok, Mas. Yuk, kita berangkat. Ntar aku telat.”

* * *

            Sepertinya langit tak ingin beradamai hari ini. Sejak pagi tadi hujan tak kunjung berhenti. Jam bulat yang bertengger di dinding sekolah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Pikiranku masih tertuju pada gadis kecil itu. Entah apa tyang membuatku selalu mengingatnya.
            “Oii, loe ikut gak niih?” Hani membuyarkan lamunanku.
            “Kemana?”
            “Astaga, Nind.. Kamu sehat? Udah pikun? Kesambet? Belum minum obat?” Omel Zahra tanpa memberiku jawaban. Yaah, temanku yang satu itu memang orang yang cerewet.
            “Errr..” hani menepuk dahinya. “Nindy Arisetami. Hari ini kita ada jadwal perjalanan ke Orchid Garden alias Taman Anggrek alias MTA, dunianya ibu-ibu arisan yang suka shopping. Loe kenapa sih? Aneh banget hari ini.” Celetuknya panjang lebar.
            “Oh, iya iya. Ya udah. Cuss kalo gitu. Yuk!”

            Kami melangkahkan kaki kami ke lapangan parker sekolah, tempat mobil Hani berdiam bersama supir kebanggaannya. Kami menembus hujan. Menyusuri jalan yang mulai tergenang. Kuamati setiap anak yang menawarkan payung kepada pengguna jalan di halte, emperan toko, bahkan di lampu merah. Namun tak kutemukan gadis kecil itu di sana.

            Taman Anggrek. Memang tempat yang menyenangkan untuk belanja ria dan menikmati arena ice skating. Tapi aku tidak bersemangat. Hanya sebentar aku menemani Hani dan Zahra shopping.

            “Eh, aku pulang duluan ya? Lagi gak enak badan nih.”
            “Loh, kok? Bareng aja. Gue anter deh” Hani terlihat khawatir.
            “Oh, gak usah, Han. Gapapa kok. Kalian shopping aja dulu.”
            “Bener nih? Ya udah deh. Kamu hati-hati ya.” Ucap Zahra.

            Aku berlalu. Jantungku nyaris melompat ketika aku melewati pintu keluar. Gadis kecil yang kucari-cari sedang duduk merenung di tangga pertama mal itu. Tubuhnya terlihat lemah. Bibirnya putih. Aku mendekatinya.
            “Dek..”
            Dia menoleh padaku. Matanya sembab. Sepertinya dia baru menangis.
            “kakak.. payungnya rusak.” Dia mengadu. Aku terdiam.
            “Aku lapar..” Aku mengelus kepalanya. Dia menggigil. Badannya hangat.
            “Yuk, kita makan..” Ajakku.
            “Beneran?” Tanyanya polos. Dadaku sesak. Mataku mulai panas.
            “Iya, adik kecil.” Aku berusaha tersenyum.

            Mata bulatnya berbinar. Bibir pucatnya mengembang. Aku menggenggam sebelah tangannya. Kubawa di ke Mc Donals. Dia makan dengan lahap. Tak pernah kulihat anak kecil makan sebanyak itu. Kukira hanya mas Dodi yang mampu menghabiskan dua piring nasi.

            “Puji Tuhan, udah kenyang.” Ucapnya bersyukur. Aku terhentak. Meski dia hidup kekurangan, dia masih bias bersyukur.
            “Nama kamu siapa, Dik?” Tanyaku.
            Dia memandangku binung. Matanya menyelidik.
            “Iiiihh.. Kakak aneh. Aku Angel kak.”

            Aneh? Mengapa dia menyebut aku aneh? Tiba-tiba kepalaku pusing. Pandanganku gelap. Dunia seakan-akan berbalik. Dalam memori otakku berputar tanyangan-tayangan yang sebelumnya kulupakan. Tayangan yang hilang dari ingatanku setelah aku mengalami kecelakaan tiga minggu lalu dan mengakibatkan aku terkena retrograde amnesia, amnesia ringan yang membuatku lupa kejadian yang kualami 2 bulan sebelum kecelakaan.

            Sekarang aku ingat. Aku ingat siapa gadis itu. Aku ingat mengapa aku merasa begitu dekat dengannya. Dia Angel kecil yang dulu tinggal di sebelah rumahku. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sana. Dan yang kutahu, ibunya dipecat karena memecahkan guci kesayangan majikannya. Aku ingat dulu sering memberinya makanan kalau bertemu. Dia sering berdiri di depan pintu gerbang rumahku sambil mendekap boneka beruangnya yang lusuh.
           
            Aku berfikir sejenak. Kuperhatikan wajah putihnya yang berlapis debu. Kuperhatikan bola matanya yang penuh harapan. Kuperhatikan bibirnya yang masih putih. Kuperhatikan tubuhnya yang kecil. Dimana ibunya? Mengapa anak sekecil ini dibiarkan bekerja sendirian? Mengapa dia terlihat tidak terurus? Beribu pertanyaan bermunculan di benakku.

            “Angel, mama di mana?”
            Dia menatapku. Kemudian memandang meja di depannya.
            “Mama di surga.”
            Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat. Aku ingin mengatakan sesuatu, namun bibirku tak mau terbuka.
            “Angel sekarang sendirian. Kadang Angel tidur bareng temen-temen di depan toko. Angel juga suka nginap di rumahnya Sasha. Tapi rumah Sasha dibuatnya dari kardus. Sempit, dingin.” Hening sejenak. “Angel kangen sama mama. Angel kangen dipeluk mama.” Kulihat matanya berlinang, bagaikan kolam yang hendak meluap.

            Aku mendekapnya. Dia menangis. Aku berusaha tidak terlihat begitu sedih. Tapi aku gagal. Hatiku perih seperti tersayat-sayat. Dunia ini tidak adil. Mengapa gadis kecil seperti dia harus mengalami hal buruk seperti ini?

            Aku teringat pada orang tuaku. Meskipun aku terlahir dari orang tua yang tidak begitu akur, aku jauh lebih beruntung dari Angel. Orang tuaku sibuk dengan urusan masing-masing dan lebih mementingkan materi. Namun aku masih mempunyai mas Dodi yang menyayangiku. Aku masih bisa sekolah. Aku masih bisa mengisi perutku tanpa harus bekerja keras seperti Angel. Namun jika dibandingkan dengan ketegaran Angel kecil, aku bukan apa-apa. Bahkan aku sering lupa bersyukur dengan apa yang kumiliki.

            * * *
           
            Pukul 21.00. Aku membawa Angel ke rumahku. Seperti biasa, orang tuaku belum berada di rumah. Alasannya sama. Sibuk cari duit. Berbeda dengan Mas Dodi yang mungkin sudah menyiapkan KBBI agar mempunyai cukup kosakata untuk mengomeliku karena pulang terlambat. Aku lupa meneleponnya. Apalagi setelah Hani dan Zahra memberitahunya bahwa aku sudah pulang duluan.

            Kulihat air muka Mas Dodi berubah ketika aku memasuki rumah. Mungkin tadinya dia ingin memarahiku. Namun melihat aku membawa gadis kecil yang seperti dikenalnya, dia diam seribu bahasa. Aku menjelaskan apa yang terjadi. Dari awal pertemuanku dengan Angel, hingga tentang kematian ibunya, dan rencanaku untuk mengajaknya tinggal di rumah kami.

            “Astaga.. Kasihan banget dia.” Ucap Mas Dodi.
            “He em.. Jadi, bisa kan, Mas, Angel tinggal bareng kita?”
            “Mas sih mau aja. Tapi Mama sama Papa?
            “Ah. Mereka mana peduli ada siapa aja di rumah ini.” Ucapku sinis. “Lagian kan, kita punya cukup makanan buat berlima. Angel bisa tidur bareng Nindy.” Tambahku.
            “Hushh, ga boleh gitu. Ya udah deh, terserah kamu aja. Kasihan juga Angel.”
            Aku tersenyum puas. Kubawa Angel ke kamarku. Aku memakaikannya baju masa kecilku yang membuat dia agak tenggelam di dalamnya. Hatiku berbunga-bunga bisa membawanya ke rumahku.

* * *

            Pagi yang cerah. Namun tubuhku belum mau beranjak dari tidurku yang indah. Tempat tidurku tidak mengizinkanku pergi, hingga suara lembut sperti malaikat berbisik di telingaku. Tangan kecilnya mengguncang tubuhku.
            “Kak, bangun kak..”
            “Hhmmm” jawabku malas.
            “Kak, bangun.. udah pagi.”
            “Bentar lagi dek, ini kan hari Minggu.”
            “Iyaa, ini hari Minggu.. Kita ke gereja yuk?”
            Aku terbangun. Nyaris melompat. Sebelumnya tidak ada orang yang mengingatkan, bahkan mengajakku ke gereja. Sudah lama aku ingin beribadah bersama keluargaku. Entah apa yang membuatku mengikuti ajakan Angel.
            Kami turun ke dapur. Papa, Mama, dan Mas Dodi sudah ada di sana. Mereka terlihat bingung melihatku bangun pagi. Biasanya, aku orang paling malas bangun jika hari Minggu tiba. Papa dan Mama memandangi Angel. Rupanya Mas Dodi sudah bercerita pada mereka dan mereka setuju Angel tinggal bersama kami. Ya, walaupun kami tidak begitu akrab, tapi kami masih mempunyai rasa belas kasihan.
            Mereka kembali menatapku.
            “Mau gereja.” Kataku menjawab pertanyaan yang tak mereka ucapkan.
            Mereka berpandangan.
            “Selamat pagi, Om, Tante, Mas Odi.” Sapa Angel riang. “Ke gereja yuk?”
            Papa, Mama, dan Mas Dodi terdiam. Ekspresi mereka berubah. Ssepertinya ada sesuatu yang membuat mereka merenung. Hening. Aku mengajak Angel sarapan. Sarapan yang dibumbui dengan keheningan.
            “Kita ke gereja, yuk?” Papa memecah keheningan.
            Aku dan Mas Dodi terbelalak.
            “Iya. Yuk, kita ke gereja?” sambung Mama.
            Tanpa sadar, aku tersenyum lebar dan meneteskan air mata. Bahagia rasanya mendengar Papa dan Mama mengajak kami beribadah ke gereja.
            “Masa’ anak kecil ke gereja, kita nggak?” kata Papa kemudian.

            Angel membawa perubahan kecil bagi kami. Entah itu apa, namun Angel memiliki sesuatu dalam dirinya yang membuat orang lain ingin mengikuti perkataannya.

            Sudah tiga minggu Angel menjadi bagian dari keluarga kami. Kehadirannya membawa kebahagiaan bagi kami. Papa dan Mama sepertinya sangat menyayangi Angel. Mereka sudah dangat jarang bertengkar. Bahkan mereka selalu meluangkan waktu akhir pecan mereka untuk kami. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

            Namun, semua itu terasa seperti balon yang ditiup tanpa henti. Semakin besar, semakin besar, hingga akhirnya mencapai puncak keelastisannya dan pecah. Kebahagiaan kami sirna ketika suatu malam Angel terserang demam tinggi. Nafsu makannya berkurang  Badannya menggigil. Bibirnya sepucat kertas. Kami melarikannya ke rumah sakit. Lagi-lagi hujan. Membuat perjalanan kami terhalang. Untungnya Papa cukup handal mengemudikan mobil.

            “Anak ibu mengidap penyakit Thalasemia.” Kata dokter menyebut nama penyakit yang terdengar asing bagiku.
            “Thalasemia?” Tanya Mama mempertegas.
            “Iya, Bu. Maaf, penyakit ini merupakan salah satu penyakit keturunan yang belum dapat disembuhkan.”
            Kami semua terlonjak. Langit seakan-akan runtuh menimbun semua kenangan indah bersama Angel. Rasa sesak yang dulu sering kualami kini menghampiriku kembali.

            “Dokter, tolong selamatkan Angel..” pintaku pada dokter berparas lembut itu.
            “Maaf, Dik. Melihat kondisinya sekarang, sepertinya adik kamu tidak mendapat perawatan serius dari kecil. Biasanya, jika tidak diatasi dari kecil, pengidap penyakit ini hanya mampu bertahan sampai umur delapan tahun.”
            “Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya, Dok?” Tanya Papa penuh harap.
            “Maaf, pak. Thalasemia belum ada obatnya.”
            Putus asa menghampiriku. Mama memelukku. Pertama kalinya sejak dua tahun lalu.

            * * *

            Angel kini menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Ranjang putih menjadi tempatnya berbaring. Selang merah melekat di tangannya. Selang yang menghantarkan darah ke tubuhnya yang lemah. Awalnya dia kuat, ada secercah harapan hidup padanya, namun harapan itu segera terbang meninggalkannya.

            “Kak..” Dia memanggilku dengan suara lembut khasnya yang lemah.
            “Iya sayang?”
            “Meninggal itu apa?” Tanyanya polos.
            Pertanyaan yang membuat dadaku semakin sesak. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
            “Meninggal itu pergi ke surga. Ketemu Tuhan.” Jawab mama sambil menahan telaga bening di matanya agar tidak meluap.
            “Berarti bisa ketemu mama juga? Angel pengen ketemu mama.”
            “Iya sayang.” Mama terisak. Tak mampu lagi menahan butir-butir mutiara di matanya.
            “Kak Nindy, Angel pengen nyanyi.” Ucapnya lagi.
            Dia mulai mengumandangkan lagu yang pernah kuajarkan pdanya dengan suara indahnya. Kami pun ikut membantunya bernyanyi.
            “Dia Tuhan, tak akan pernah memberi penjobaan dan ujian melebihi kekuatan yang kau punya. Hendaklah bersyukur, Dia melakukan semua karma cinta, supaya kau beroleh hikmat dan jadi sempurna sperti Dia.” Suaranya semakin melemah.
            “om, Tante, Mas Odi, Kakak Nindy, Angel sayaaang bangt sama kalian.”
            Dadaku semakin sesak. Kamar putih tempat kami berkumpul kini terasa pengap.
            “Kak Nindy, kue yang Kakak kasih ke Angel enak banget. Makasih ya, Kak.”
            “Aku berusaha tersenyum di balik tangisku. Masa-masa indah bersama Angel kembali berlompatan di kepalaku.
            “Angel capek. Pengen tidur.” Suaranya nyaris tak terdengar.

            Malam itu, Angel kecil menutup matanya dengan damai. Ada sebuah senyum terlukis di wajahnya. Kini dia pergi menemui ayah dan ibunya dan meninggalkan kepenatan dunia yang menyiksa.

            Dia bukan sekedar gadis kecil yang memperjuangkan hidupnya. Dia bukan sekedar gadis kecil yang berjuang melawan penyakit selama tujuh tahun. Dia adalah malaikat kecil yang telah mengubah hidupku. Dia malaikat kecil yang memberiku ketegaran. Dia malaikat kecil yang menyelamatkanku dari belenggu keputusasaan. Dia malaikat kecil di bawah payung yang setia melindungi orang-orang dari dinginnya mutiara-mutiara langit. Terbanglah Angel kecil.

* TAMAT *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar