Baju gadis kecil itu sudah basah kuyup ketiba sampai di haklte. beberapa orang anak sekolah dan ibu-ibu segera menyerbu gaduis kecil itu. Tapi, ketika gadis itu melihat ke arahku, dia cepat menghampiriku, sepertinya dia sudah mengenalku sebelumnya.
Dia hanya menawarkan payungnya untukku. awalnya ku menolak, karena banyak orang yang membutuhkan jasanya selain aku. tapi apa daya, ia selalu mengarahkan payung tersenut ke arah kedua tanganku. hingga ku tak mampu tuk menolak lagi, ku raih benda tersebut dari kedua tangannya.
Dia
tersenyum. Senyum yang hanya dimiliki gadis lugu seperti dia. Segera saja aku
menyeberangi jalan yang selalu diramaikan kijang berlalu-lalang. Gadis kecil
itu berjalan di sampingku. Kaki kecilnya yang telanjang melangkah pasti seirama
dengan suara hujan, lagu alam yang indah. Dia tidak mempedulikan pakaiannya
yang sangat basah. Aku menariknya agar terlindung dari tetesan air hujan yang
kian menjadi. Dia tersenyum. Tangan kecilnya menggenggam tanganku dengan erat.
Genggamannya itu membuat aku merasa hanagat di antara dingiinya malam yang
menusuk tulang.
Dia mengantarku
sampai ke depan rumah.
“Terima
kasih, adik kecil,” ucapku sembari menyodorkan uang lima ribuan padanya. Hening sejenak.
“Terima
kasih, kakak.” Lagi-lagi dia tersenyum, lalu berlari menerobos hujan.
Aku
terkejut. Bukan karena dia pergi tanpa menerima uang dariku, tapi karena suaranya
yang begitu lembut dan nyaris tak terdengar hingga membuat tubuh kecilnya
terlihat begitu rapuh. Aku hendak memanggilnya ketika dia menghilang di
kegelapan malam.
Aku
kembali mengingat wajahnya. Senyuman dan tatapan matnya yang mengatakan dia
merindukan sesuatu. Sesutau yang mungkin telah hilang dari hidupnya. Di
telingaku kembali terngiang suaranya yang lembut, bersih, dan menyimpan sesuatu
yang tak dapat diungkapkan. Aku bertanya kepada langit-langit kamar dan
berharap dia akan menjawabku. Apakah aku mengenalnya? Apa dia mengenalku?
Mengapa aku merasa begitu dekat dengan
sosok itu? Siapa gadis kecil itu? Aku berusaha menemukan jawaban, namun kelelahan
menerpaku dan aku tenggelam di pulau kapukku yang hangat.
Hari
terus berlalu, bumi tetap berputar, waktu terus berjalan, tak ingin
beristirahat walau hanya sedetik. Aku tidak pernah melihat gadis kecil itu
lagi. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya di halte dekat rumahku. Apa dia
baik-baik saja?
“Cari siapa,
Nind?” Tanya mas Dodi melihatku celingak-celinguk di suatu pagi yang cukup
mendung.
“Hah?
Ah, bukan siapa-siapa kok, Mas. Yuk, kita berangkat. Ntar aku telat.”
* * *
Sepertinya
langit tak ingin beradamai hari ini. Sejak pagi tadi hujan tak kunjung
berhenti. Jam bulat yang bertengger di dinding sekolah menunjukkan pukul 16.00
WIB. Pikiranku masih tertuju pada gadis kecil itu. Entah apa tyang membuatku
selalu mengingatnya.
“Oii,
loe ikut gak niih?” Hani membuyarkan lamunanku.
“Kemana?”
“Astaga,
Nind.. Kamu sehat? Udah pikun? Kesambet? Belum minum obat?” Omel Zahra tanpa
memberiku jawaban. Yaah, temanku yang satu itu memang orang yang cerewet.
“Errr..”
hani menepuk dahinya. “Nindy Arisetami. Hari ini kita ada jadwal perjalanan ke Orchid Garden
alias Taman Anggrek alias MTA, dunianya ibu-ibu arisan yang suka shopping. Loe
kenapa sih? Aneh banget hari ini.” Celetuknya panjang lebar.
“Oh,
iya iya. Ya udah. Cuss kalo gitu. Yuk!”
Kami
melangkahkan kaki kami ke lapangan parker sekolah, tempat mobil Hani berdiam
bersama supir kebanggaannya. Kami menembus hujan. Menyusuri jalan yang mulai
tergenang. Kuamati setiap anak yang menawarkan payung kepada pengguna jalan di
halte, emperan toko, bahkan di lampu merah. Namun tak kutemukan gadis kecil itu
di sana.
Taman Anggrek. Memang tempat yang menyenangkan untuk
belanja ria dan menikmati arena ice skating. Tapi aku tidak bersemangat. Hanya
sebentar aku menemani Hani dan Zahra shopping.
“Eh,
aku pulang duluan ya? Lagi gak enak badan nih.”
“Loh,
kok? Bareng aja. Gue anter deh” Hani terlihat khawatir.
“Oh,
gak usah, Han. Gapapa kok. Kalian shopping aja dulu.”
“Bener
nih? Ya udah deh. Kamu hati-hati ya.” Ucap Zahra.
Aku
berlalu. Jantungku nyaris melompat ketika aku melewati pintu keluar. Gadis
kecil yang kucari-cari sedang duduk merenung di tangga pertama mal itu.
Tubuhnya terlihat lemah. Bibirnya putih. Aku mendekatinya.
“Dek..”
Dia
menoleh padaku. Matanya sembab. Sepertinya dia baru menangis.
“kakak..
payungnya rusak.” Dia mengadu. Aku terdiam.
“Aku
lapar..” Aku mengelus kepalanya. Dia menggigil. Badannya hangat.
“Yuk,
kita makan..” Ajakku.
“Beneran?”
Tanyanya polos. Dadaku sesak. Mataku mulai panas.
“Iya,
adik kecil.” Aku berusaha tersenyum.
Mata
bulatnya berbinar. Bibir pucatnya mengembang. Aku menggenggam sebelah
tangannya. Kubawa di ke Mc Donals. Dia makan dengan lahap. Tak pernah kulihat
anak kecil makan sebanyak itu. Kukira hanya mas Dodi yang mampu menghabiskan
dua piring nasi.
“Puji
Tuhan, udah kenyang.” Ucapnya bersyukur. Aku terhentak. Meski dia hidup
kekurangan, dia masih bias bersyukur.
“Nama
kamu siapa, Dik?” Tanyaku.
Dia
memandangku binung. Matanya menyelidik.
“Iiiihh..
Kakak aneh. Aku Angel kak.”
Aneh?
Mengapa dia menyebut aku aneh? Tiba-tiba kepalaku pusing. Pandanganku gelap.
Dunia seakan-akan berbalik. Dalam memori otakku berputar tanyangan-tayangan
yang sebelumnya kulupakan. Tayangan yang hilang dari ingatanku setelah aku
mengalami kecelakaan tiga minggu lalu dan mengakibatkan aku terkena retrograde
amnesia, amnesia ringan yang membuatku lupa kejadian yang kualami 2 bulan
sebelum kecelakaan.
Sekarang
aku ingat. Aku ingat siapa gadis itu. Aku ingat mengapa aku merasa begitu dekat
dengannya. Dia Angel kecil yang dulu tinggal di sebelah rumahku. Ibunya bekerja
sebagai pembantu rumah tangga di sana.
Dan yang kutahu, ibunya dipecat karena memecahkan guci kesayangan majikannya.
Aku ingat dulu sering memberinya makanan kalau bertemu. Dia sering berdiri di
depan pintu gerbang rumahku sambil mendekap boneka beruangnya yang lusuh.
Aku
berfikir sejenak. Kuperhatikan wajah putihnya yang berlapis debu. Kuperhatikan
bola matanya yang penuh harapan. Kuperhatikan bibirnya yang masih putih.
Kuperhatikan tubuhnya yang kecil. Dimana ibunya? Mengapa anak sekecil ini
dibiarkan bekerja sendirian? Mengapa dia terlihat tidak terurus? Beribu
pertanyaan bermunculan di benakku.
“Angel,
mama di mana?”
Dia
menatapku. Kemudian memandang meja di depannya.
“Mama
di surga.”
Jantungku
berhenti berdetak untuk beberapa saat. Aku ingin mengatakan sesuatu, namun
bibirku tak mau terbuka.
“Angel
sekarang sendirian. Kadang Angel tidur bareng temen-temen di depan toko. Angel
juga suka nginap di rumahnya Sasha. Tapi rumah Sasha dibuatnya dari kardus.
Sempit, dingin.” Hening sejenak. “Angel kangen sama mama. Angel kangen dipeluk
mama.” Kulihat matanya berlinang, bagaikan kolam yang hendak meluap.
Aku
mendekapnya. Dia menangis. Aku berusaha tidak terlihat begitu sedih. Tapi aku
gagal. Hatiku perih seperti tersayat-sayat. Dunia ini tidak adil. Mengapa gadis
kecil seperti dia harus mengalami hal buruk seperti ini?
Aku
teringat pada orang tuaku. Meskipun aku terlahir dari orang tua yang tidak
begitu akur, aku jauh lebih beruntung dari Angel. Orang tuaku sibuk dengan urusan
masing-masing dan lebih mementingkan materi. Namun aku masih mempunyai mas Dodi
yang menyayangiku. Aku masih bisa sekolah. Aku masih bisa mengisi perutku tanpa
harus bekerja keras seperti Angel. Namun jika dibandingkan dengan ketegaran
Angel kecil, aku bukan apa-apa. Bahkan aku sering lupa bersyukur dengan apa
yang kumiliki.
*
* *
Pukul
21.00. Aku membawa Angel ke rumahku. Seperti biasa, orang tuaku belum berada di
rumah. Alasannya sama. Sibuk cari duit. Berbeda dengan Mas Dodi yang mungkin
sudah menyiapkan KBBI agar mempunyai cukup kosakata untuk mengomeliku karena
pulang terlambat. Aku lupa meneleponnya. Apalagi setelah Hani dan Zahra
memberitahunya bahwa aku sudah pulang duluan.
Kulihat
air muka Mas Dodi berubah ketika aku memasuki rumah. Mungkin tadinya dia ingin
memarahiku. Namun melihat aku membawa gadis kecil yang seperti dikenalnya, dia
diam seribu bahasa. Aku menjelaskan apa yang terjadi. Dari awal pertemuanku
dengan Angel, hingga tentang kematian ibunya, dan rencanaku untuk mengajaknya tinggal
di rumah kami.
“Astaga..
Kasihan banget dia.” Ucap Mas Dodi.
“He
em.. Jadi, bisa kan,
Mas, Angel tinggal bareng kita?”
“Mas
sih mau aja. Tapi Mama sama Papa?
“Ah.
Mereka mana peduli ada siapa aja di rumah ini.” Ucapku sinis. “Lagian kan, kita punya cukup
makanan buat berlima. Angel bisa tidur bareng Nindy.” Tambahku.
“Hushh,
ga boleh gitu. Ya udah deh, terserah kamu aja. Kasihan juga Angel.”
Aku
tersenyum puas. Kubawa Angel ke kamarku. Aku memakaikannya baju masa kecilku
yang membuat dia agak tenggelam di dalamnya. Hatiku berbunga-bunga bisa
membawanya ke rumahku.
* * *
Pagi
yang cerah. Namun tubuhku belum mau beranjak dari tidurku yang indah. Tempat
tidurku tidak mengizinkanku pergi, hingga suara lembut sperti malaikat berbisik
di telingaku. Tangan kecilnya mengguncang tubuhku.
“Kak,
bangun kak..”
“Hhmmm”
jawabku malas.
“Kak,
bangun.. udah pagi.”
“Bentar
lagi dek, ini kan
hari Minggu.”
“Iyaa,
ini hari Minggu.. Kita ke gereja yuk?”
Aku
terbangun. Nyaris melompat. Sebelumnya tidak ada orang yang mengingatkan,
bahkan mengajakku ke gereja. Sudah lama aku ingin beribadah bersama keluargaku.
Entah apa yang membuatku mengikuti ajakan Angel.
Kami
turun ke dapur. Papa, Mama, dan Mas Dodi sudah ada di sana. Mereka terlihat bingung melihatku bangun
pagi. Biasanya, aku orang paling malas bangun jika hari Minggu tiba. Papa dan
Mama memandangi Angel. Rupanya Mas Dodi sudah bercerita pada mereka dan mereka
setuju Angel tinggal bersama kami. Ya, walaupun kami tidak begitu akrab, tapi
kami masih mempunyai rasa belas kasihan.
Mereka
kembali menatapku.
“Mau
gereja.” Kataku menjawab pertanyaan yang tak mereka ucapkan.
Mereka
berpandangan.
“Selamat
pagi, Om, Tante, Mas Odi.” Sapa Angel riang.
“Ke gereja yuk?”
Papa,
Mama, dan Mas Dodi terdiam. Ekspresi mereka berubah. Ssepertinya ada sesuatu
yang membuat mereka merenung. Hening. Aku mengajak Angel sarapan. Sarapan yang
dibumbui dengan keheningan.
“Kita
ke gereja, yuk?” Papa memecah keheningan.
Aku
dan Mas Dodi terbelalak.
“Iya.
Yuk, kita ke gereja?” sambung Mama.
Tanpa
sadar, aku tersenyum lebar dan meneteskan air mata. Bahagia rasanya mendengar
Papa dan Mama mengajak kami beribadah ke gereja.
“Masa’
anak kecil ke gereja, kita nggak?” kata Papa kemudian.
Angel
membawa perubahan kecil bagi kami. Entah itu apa, namun Angel memiliki sesuatu
dalam dirinya yang membuat orang lain ingin mengikuti perkataannya.
Sudah
tiga minggu Angel menjadi bagian dari keluarga kami. Kehadirannya membawa
kebahagiaan bagi kami. Papa dan Mama sepertinya sangat menyayangi Angel. Mereka
sudah dangat jarang bertengkar. Bahkan mereka selalu meluangkan waktu akhir
pecan mereka untuk kami. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Namun,
semua itu terasa seperti balon yang ditiup tanpa henti. Semakin besar, semakin besar,
hingga akhirnya mencapai puncak keelastisannya dan pecah. Kebahagiaan kami
sirna ketika suatu malam Angel terserang demam tinggi. Nafsu makannya
berkurang Badannya menggigil. Bibirnya
sepucat kertas. Kami melarikannya ke rumah sakit. Lagi-lagi hujan. Membuat
perjalanan kami terhalang. Untungnya Papa cukup handal mengemudikan mobil.
“Anak
ibu mengidap penyakit Thalasemia.” Kata dokter menyebut nama penyakit yang
terdengar asing bagiku.
“Thalasemia?”
Tanya Mama mempertegas.
“Iya,
Bu. Maaf, penyakit ini merupakan salah satu penyakit keturunan yang belum dapat
disembuhkan.”
Kami
semua terlonjak. Langit seakan-akan runtuh menimbun semua kenangan indah
bersama Angel. Rasa sesak yang dulu sering kualami kini menghampiriku kembali.
“Dokter,
tolong selamatkan Angel..” pintaku pada dokter berparas lembut itu.
“Maaf,
Dik. Melihat kondisinya sekarang, sepertinya adik kamu tidak mendapat perawatan
serius dari kecil. Biasanya, jika tidak diatasi dari kecil, pengidap penyakit
ini hanya mampu bertahan sampai umur delapan tahun.”
“Apa
tidak ada cara untuk menyembuhkannya, Dok?” Tanya Papa penuh harap.
“Maaf,
pak. Thalasemia belum ada obatnya.”
Putus
asa menghampiriku. Mama memelukku. Pertama kalinya sejak dua tahun lalu.
*
* *
Angel
kini menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Ranjang putih menjadi tempatnya
berbaring. Selang merah melekat di tangannya. Selang yang menghantarkan darah
ke tubuhnya yang lemah. Awalnya dia kuat, ada secercah harapan hidup padanya,
namun harapan itu segera terbang meninggalkannya.
“Kak..”
Dia memanggilku dengan suara lembut khasnya yang lemah.
“Iya
sayang?”
“Meninggal itu apa?” Tanyanya polos.
“Meninggal itu apa?” Tanyanya polos.
Pertanyaan
yang membuat dadaku semakin sesak. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Meninggal
itu pergi ke surga. Ketemu Tuhan.” Jawab mama sambil menahan telaga bening di
matanya agar tidak meluap.
“Berarti
bisa ketemu mama juga? Angel pengen ketemu mama.”
“Iya
sayang.” Mama terisak. Tak mampu lagi menahan butir-butir mutiara di matanya.
“Kak
Nindy, Angel pengen nyanyi.” Ucapnya lagi.
Dia
mulai mengumandangkan lagu yang pernah kuajarkan pdanya dengan suara indahnya.
Kami pun ikut membantunya bernyanyi.
“Dia
Tuhan, tak akan pernah memberi penjobaan dan ujian melebihi kekuatan yang kau
punya. Hendaklah bersyukur, Dia melakukan semua karma cinta, supaya kau beroleh
hikmat dan jadi sempurna sperti Dia.” Suaranya semakin melemah.
“om,
Tante, Mas Odi, Kakak Nindy, Angel sayaaang bangt sama kalian.”
Dadaku
semakin sesak. Kamar putih tempat kami berkumpul kini terasa pengap.
“Kak
Nindy, kue yang Kakak kasih ke Angel enak banget. Makasih ya, Kak.”
“Aku
berusaha tersenyum di balik tangisku. Masa-masa indah bersama Angel kembali
berlompatan di kepalaku.
“Angel
capek. Pengen tidur.” Suaranya nyaris tak terdengar.
Malam
itu, Angel kecil menutup matanya dengan damai. Ada sebuah senyum terlukis di wajahnya. Kini
dia pergi menemui ayah dan ibunya dan meninggalkan kepenatan dunia yang
menyiksa.
Dia
bukan sekedar gadis kecil yang memperjuangkan hidupnya. Dia bukan sekedar gadis
kecil yang berjuang melawan penyakit selama tujuh tahun. Dia adalah malaikat
kecil yang telah mengubah hidupku. Dia malaikat kecil yang memberiku ketegaran.
Dia malaikat kecil yang menyelamatkanku dari belenggu keputusasaan. Dia
malaikat kecil di bawah payung yang setia melindungi orang-orang dari dinginnya
mutiara-mutiara langit. Terbanglah Angel kecil.
* TAMAT
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar