Jumat, 23 Mei 2014

mungkin lebih baik.. mungkin juga tidak..

09 Januari 2014
Patah Hati
Ini bukan kali pertama aku merasakannya. Tapi entah mengapa ini terasa lebih sakit dari apa yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku terlanjur jatuh terlalu dalam.
•    Apa kau pernah menyukai seseorang secara diam-diam?
Aku menyukainya entah sejak kapan. Mungkin berawal dari gelang. Entah kenapa, aku ingin melakukan sesuatu untuknya, meski saat itu aku belum mengenalnya. Diam-diam aku mulai sering memperhatikannya. Aku lebih memilih memperhatikannya dari  jauh.
Aku bersikap biasa di depannya, meski sebenarnya sikap biasa itu semakin menunjukkan kalau aku sedang salah tingkah.
Aku menutupi perasaanku, hingga kami semakin dekat, dan rasa itu semakin besar. Hingga kini, aku memilih diam. Mungkin begitu lebih baik, mungkin juga tidak.
•    Apa kau pernah menaruh hati pada seseorang yang sudah memiliki kekasih?
Dia punya pacar. Aku tahu itu. Tapi aku tetap menyukainya, aku ingin menjaga perasaan ini, meski kutahu ini hanya akan berjalan sepihak—hanya di pihakku tentunya—. Aku tidak berharap bisa menjadi pengisi hatinya. Dengan kami dekat, aku cukup senang. Aku cukup tenang meski hanya melihatnya dari jauh. Aku cukup senang bisa memanggilnya, meski dia tidak akan menyahut.
Aku senang tersenyum untuknya, meskipun dia tidak melihatku. Aku cukup senang jika dia bisa tersenyum dengan kekasihnya. Aku tau dia tidak akan pernah berpaling padaku, tapi tak apa. Aku akan selalu memperhatikannya dari  jauh. Mungkin itu lebih baik, mungkin juga tidak.
•    Apakah kau pernah patah hati karena seseorang yang sesungguhnya bukan milikmu?
Semua yang awalnya kupikir akan baik-baik saja, ternyata tak bisa sebaik yang kuharapkan.
Perasaanku semakin besar dan tak terkendali. Semua perhatiannnya dan kedekatan kami semakin membuatku terluka.
Patah Hati.......
Mungkin ini yang sesungguhnya dinamakan patah hati.
Saat orang yang kau kagumi diam-diam ternyata memiliki kekasih dan dia hanya menganggapmu teman/kakak/saudara/senior.
16 bulan. Ternyata sudah selama itu mereka menjalaninya—paling tidak ketika aku menuliskan ini--. Membuatku semakin hancur. Haha
Tiba-tiba saja aku merasa tak rela. Bukankah sebelumnya kukatakan aku hanya akan mengaguminya dari jauh? Ya, aku melakukannya. Hanya saja aku semakin tak bisa mengontrol perasaanku padanya.
Kurasa ini lebih sakit dari putus hubungan. Perhatiannya dan kedekatan kami beberapa bulan terakhir membuatku semakin terikat padanya. Jadi, apakah PHP yang semakin marak di kalangan muda-mudi sedang datang menghampiriku? Entahlah.

Mengagumi dari jauh, itu indah...tapi juga sakit.
Jika kau mengagumi seseorang, ungkapkanlah.
Mungkin itu akan lebih baik, mungkin juga tidak.

ketika satu kenangan pergi, kenangan lain datang..

10 November 2013—20.28 WIB
    lagi-lagi aku teringat. Teringat akan semua kenangan itu. Teringat akan dia. Entah kenapa, ketika aku hampir berhasil melupakannya dan menutup pintu hatiku, selalu saja ada sesuatu yang menghalangi. Bukan menghalangiku, tapi mengahalangi pintu hatiku.
    Aku teringat akan masa-masa indah bersama dia. Aku teringat saat hari valentine dia memberiku hadiah dengan malu-malu. “Bawa pulang yaa..” suaranya tak pernah terhapus dari memori otakku. Aku suka saat-saat seperti itu. Saat-saat dia tampak lucu ketika salah tingkah di hadapanku.
Aku teringat, malam sebelumnya dia sudah membocorkan rahasia kado valentinenya padaku.sungguh terlihat tidak romantis. Haha. Tapi aku suka itu.—katanya “kerterbukaan itu yang penting” – Aku teringat saat suatu hari pulang sekolah aku mengenalkannya pada pangeran yang telah mencuri hatiku—dan tak mengembalikannya—yang tak lain adalah dia. “Kau mau tau siapa yang kumaksud?” tanyaku. Dia mengangguk dengan wajah gugup. Aku menunjuk dirinya—sebenarnya aku juga gugup—. Ekspresinya saat itu, aku tidak akan pernah lupa.
    Kurasa—dulunya—kami adalah salah satu pasangan yang langka. Bagaimana tidak? Meski sudah berbulan-bulan menjalin hubungan—dan kami sudah SMA—tapi kami tidak seperti pasangan-pasangan lainnya. Jangankan mengobrol, berpapasan pun rasanya tak sanggup. Alasannya, “ jantung nyaris copot” hahaha. Aku rindu merasakan “jantung copot” itu.
    Aku teringat.kali pertama dia mengajakku “ngomong serius”. Kencan yang agak menggelikan sebenarnya. Haha. Layaknya  gadis pada umumnya yang akan bertemu pujaan hati, aku benar-benar memperhatikan penampilanku. Kukira itu akan menjadi pertemuan yang menyenangkan, tapi ternyata tidak. Itu kencan yang membingungkan. Haha. Aku tak tau harus berkata apa. Jadi kami hanya diam saja untuk bebrapa saat—dan aku suka itu--.
Aku semakin terdiam saat dia mulai membahas “masalah”. Sungguh! Itu membuatku ingin tertawa. Hahahah. Dia mengira aku marah padanya. Marah? Untuk hal apa? Entahlah. Mungkin dia mengira aku marah karena dia senang menggoda gadis lain. Seandainya waktu bisa kuputar, aku ingin mengatakan padanya hal yang kupendam saat itu. “hassi, aku ngga marah samamu”.. yaah, aku tidak pernah marah. Kesal dan cemburu? Itu wajar. Aku tau kebiasaan buruknya itu, dan entah bagaimana aku bisa menerimanya. Kenapa?  Entahlah. Yang kutau,
    Kencan bodoh itu cukup membuatku terhibur sekaligus merasa bersalah padanya. Ekspresinya, dan pandangannya ketika meninggalkanku masih terlukis jelas dalam pikiranku. Dia hanya meninggalkan kertas dengan tulisan : “jalan kita masih panjang kan? Sorry.. Te Amo. Bye-bye ya  “
Ya, jalan kita masih panjang—paling tidak waktu itu masih panjang—namun tak bisa sepanjang yang kita harapkan. Te Amo Mi Amor.
I love him just the way he is.
***
    Malam ini, ketika kenangan tentang dia kembali menghanyutkan pikiranku, aku berpikir, “Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?”
    Aku ingin tau, apa pernah aku terlintas dalam pikirannya? Aku memikirkannya setiap kali ingin memejamkan mata. Apa dia juga begitu? Oh, entahlah. Aku ragu akan hal itu.
    Sekarang dia sudah menemukan sosok gadis lain yang bisa mengisi hatinya dan pikirannya. Mungkin tak ada lagi ruangan yang tersisa untukku. Sedih memang memikirkan hal itu, tapi memang begitulah keadaannya.
    Aku tau, aku telah membuat kesalahan ketika memutuskan hubungan kami. Dan aku menyesal—meski tak ada gunanya—Aku tau bagaimana perasaaannya, karna aku pernah merasakan diputuskan sepihak. Aku tau, dia kecewa. Tapi aku lebih kecewa lagi. Kecewa pada diriku sendiri.
    Seandainya bisa, aku ingin kembali padanya. Tapi aku tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk mengatakannya. Aku takut  jika dia masih sakit hati, dan aku takut, jika kami menjalin hubungan seperti dulu, dia akan melakukan hal yang sama padaku. Aku tidak siap.
    Kini, aku sudah memutuskan. Aku tidak ingin memaksanya kembali padaku. Aku hanya akan memperhatikannya dari jauh. Memastikan kalau senyumannya masih tetap seperti dulu.
Te Amo Mi Amor.
Who always watch you from the distance,
Mrs. T
21.30 WIB